Memaknai Kembali Arti Kemerdekaan

Memaknai Kembali Arti Kemerdekaan

 

Sumber Foto:mediaindonesia.com

Dalam menyambut hari kemerdekaan Indonesia, sampai saat ini masih dalam posisi sebagian masyarakatnya siap tinggal landas dan sebagian besar tinggal di landasan. Pasalnya kedaulatan politik yang merdeka dalam struktur kenegaraan tidak menjamin kemerdekaan ekonomi di masyarakat. Masyarakat selalu dijadikan objek bukan sebagai subjek sehingga kebijakan hanya untuk kepentingan masyarakat kelas elite, sementara masyarakat kelas bawah terjerat dalam aturan yang tercermin dalam hukum yang represif.

Dogmatis usang dalam marayakan kemerdekaan harus segara kita buang jauh-jauh yang hanya sekedar mengingat penjajahan masa kolonial, perlombaan untuk anak-anak, upacara bendera yang bersifat serimonial. Ada baiknya pidato kenegeraan kali ini menjelaskan kondisi masyarakat yang masih suram dan semakin sulit akibat pandemi. Presiden Jokowi harus kembali mengangkat Nawacita yang menjadi janji kepada bangsa Indonesia untuk lebih baik.

Sebagai Negara merdeka yang memiliki sumber agraria luar biasa, baik di dalam perut bumi seperti tambang dan minyak bumi, maupun hasil bumi seperti, perkebunan atau tanaman holtikultura milik rakyat serta hasil lautnya, bahkan kita memiliki dasar Negara Pancasila yang menyebutkan bahwa keadilan sosial  bagi seluruh rakyat Indonesia, hidup masyarakat mayoritas meralat (data BPS 26,42 Juta Jiwa).

Kebijakan terbuka terhadap capital global sudah memberikan kerugian kepada bangsa Indonesia, bukan hanya masyarakatnya yang sengsara namun juga telah merusak lingkungan kita. Atas dasar ini maka kita perlu mempertanyakan kebijakan ini masih relevan atau tidak?

Sejerah penjajahan adalah persoalan ekonomi dengan melakukan eksploitasi terhadap bangsa yang lemah oleh bangsa yang kuat. Era ini telah usang dan digantikan dengan era globalisasi yang mautannya sama saja yakni mengesksploitasi satu bangsa lemah. Untuk Indonesia, founding fathers telah membangun fondasi yang cukup bagus untuk merubah mental bangsa yang baru saja merdeka dari penjejahan namun sekarang hanya telah menjadi retorika politik.

Untuk sekarang ini sebaiknya Pemerintahan Jokowi melakukan terobosan baru untuk mengambil alih sumber kakayaan agraria yang dikelola oleh perusahaan asing maupun dalam negeri supaya dikelola oleh negara. Sekat-sekat yang ada harus ditabrak sehingga muncul wajah ekonomi baru dalam Indonesia yang lebih adil dan makmur.

Kita sudah lama merdeka namun tidak merdeka dalam bidang ekonomi karena terlalu banyak lelang sumber daya agraria yang dilakoni oleh calo-calo dalam negeri. Untuk merubahnya tidak gampang namun tidak msutahil. Hal dasar yang harus dipahami adalah makna kemerdekaan lahir untuk dua tujuan, pertama menciptakan masyarakat Indonesia adil dan makmur, kedua membangun bangsa yang baru.

Kedua hal ini tertuang secara implisit di teks proklamsi yang terlupakan karena dari tahun ketahun kita hanya memaknai kemerdekaan sebagai serimonial. Bila kita sudah menyadarinya maka tidak sulit untuk merubah keterpurukan bangsa ini, tetapi masalah besarnya adalah kita tidak peduli sehingga mental kita menjadi mental terjajah di alam yang merdeka

Refleksi dari perayaan kemerdekaan ini adalah kita kembali kepada semangat proklamasi melalui Nawacita yang pernah di ucapkan oleh Presiden Jokowi. Penjabarannya harus memiliki terobosan baru untuk mengelola sumber daya alam kita sehingga wajah adil dan makmur yang kita impikan tercipta. Bila tidak, maka kita harus memasukkan Jokowi  dalam deretan preisden yang gagal dalam era reformasi, walau masa jabatannya masih ada tiga tahun lagi.

 

Andria Gustiawan Perngain-angin
Pengurus DPP KNPI Satu Nafas

Articles Uncategorized