Rapat Kerja KNPI # Satu Nafas

News

 

Dewan Pengurus Pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPP KNPI) menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) pertama kepengurusan periode 2018-2021 di Jakarta, Sabtu (29/6/2019), sebagai ajang konsolidasi organisasi kepemudaan di seluruh Indonesia.

Acara ini merupakan ajang konsolidasi organisasi kepemudaan di seluruh Indonesia dari seluruh propinsi.

“Pertama-tama kami DPP KNPI mengucapkan selamat kepada pasangan capres Jokowi-Ma’ruf yang telah dimenangkan oleh putusan MK kemarin. Sebagai anak muda maka kami tidak merayakannya dengan selebrasi akan tetapi dengan mengadakan konsolidasi pemuda seluruh Indonesia untuk memberi masukan berupa program dan kegiatan yang dapat berkolaborasi dengan visi nawacita pasangan Jokowi-Ma’ruf,” ujar Ketua Umum DPP KNPI Noer Fajrieansyah, ujarnya kepada INDOPOS melalui pesan tertulis, Minggu (30/6/2019).

Rakernas ini mengangkat tema ‘Indonesia Satu Tak Terbagi’. Di sini digelar dua sesi diskusi publik, yakni ‘Pemuda dan Industri’ serta ‘Pemuda dan Strategi Penguatan Ketahanan Sistem Informasi’. Diskusi ini menghadirkan narasumber dari BKKBN, Kemenperin, Kemenkop, Humas Polri, serta BAKTI Kominfo.

Dewan Pengurus Pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPP KNPI) berfoto bersama di sela Rapat Kerja Nasional (Rakernas) pertama kepengurusan periode 2018-2021 di Jakarta, Sabtu (29/6/2019).

Sekretaris Jenderal DPP KNPI, Addin Jauharuddin mengatakan, Rakernas ini merupakan momentum untuk menyatukan visi dan misi pemuda Indonesia untuk dapat berkarya dan berkolaborasi dengan pemerintahan terpilih yang akan memimpin pada periode 2019-2024.

“Di KNPI ini semua anak muda kumpul, mulai dari lintas agama, lintas partai dan profesi semua ada. Disini semua sepakat proses demokrasi sudah selesai saatnya kita berkumpul, berkolaborasi dan berkreasi untuk Indonesia satu yang tak terbagi,” ujarnya kepada INDOPOS melalui pesan tertulis, Minggu (30/6/2019).

Saat ini, soal pilpres telah selesai. Dengan demikian diharapkan ke depan adalah seluruh komponen anak bangsa segara bersatu padu. Kemudian, segera bangkit dan melupakan momentum politik, jika ingin berpolitik maka ada waktu 5 tahun ke depan.

“Kita berharap bahwa hal-hal buruk yang terjadi pada pemilu kemarin, soal hoaks, fitnah dan pecah belah hingga soal polarisasi harus dilupakan, selebihnya mari bergandengan tangan seluruh pemuda dan berkolaborasi dengan membuat kreasi-kreasi untuk Indonesia ke depan,” katanya.

Soal sumber daya manusia (SDM) pemuda ke depan, bagaimana pun KNPI pada hari ini merupakan satu-satunya wadah untuk tempat berhimpun organisasi kepemudaan atau pun kemahasiswaan, sehingga diharapkan KNPI dan seluruh jajaran pengurus paling bawah bisa menjadi jembatan dari kepentingan besar antara negara dengan masyarakat, maupun swasta dengan pemerintah. KNPI bisa menjadi wadah pengembangan percepatan SDM dari segala lini. (rmn)

News

 

Berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 24 Tahun 2016 tentang Hari Lahir Pancasila, setiap tanggal 1 Juni ditetapkan sebagai peringatan hari lahir Pancasila. Setiap daerah pun melakukan upacara peringatan hari lahir Pancasila.

Dalam Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2018, Presiden RI Joko Widodo bertindak sebagai inspektur upacara dalam Peringatan Hari Lahir Pancasila yang diselenggarakan di halaman Gedung Pancasila Kementerian Luar Negeri.

News

 ‘KNPI Satu Nafas’ merupakan istilah yang menunjukan bahwa pemuda seluruh Indonesia satu kesatuan tekad, visi dan misi, detak nadi perjuangan, cita-cita membangun bangsa dan negara Indonesia.

Menurut mantan Ketua Umum PB HMI itu, melalui filosofi ‘Satu Nafas’ bisa menyiapkan kepemimpinan pemuda yang lebih baik; Menciptakan perubahan bangsa; Menciptakan lapangan kerja; dan menjadi solusi terhadap segala persoalan kebangsaan dan kemasyarakatan.

“Dengan ‘KNPI Satu Nafas’ sekaligus menjadi pengikat jiwa perjuangan dan komitmen pemuda Indonesia untuk berperan aktif dalam setiap dinamika sosial politik bangsa, menjaga serta memastikan bangsa ini akan berlabuh pada kejayaan dan kesejahteraan,” paparnya.

Selain itu, dengan ‘ke-satu-an’ dari pemuda Indonesia akan memberi rasa optimisme kepada rakyat bahwa Indonesia bakal semakin maju dan menjadi bangsa yang berdaya saing.

Untuk itu, lanjut Fajri, ‘KNPI Satu Nafas’ tidak hanya slogan tetapi sekaligus filosofi dan nafas perjuangan pemuda Indonesia. Sekaligus mendorong pemuda untuk berperan aktif dalam Industri 4.0, serta memaksimalkan potensi aksesibilitas economy digital, seperti finence, fintech, untuk memajukan ekonomi Indonesia di setiap lini.

“Filosofi ‘Satu Nafas’ juga memberi jalan kepada KNPI dan pemuda Indonesia untuk mulai berperan aktif dalam Revisi UU Kepemudaan No.40 Tahun 2009, sehingga dapat memberdayakan kepemudaan lebih holistik dan bisa menjamin dinamisasi dalam dunia kepemudaan,” tandas pemuda yang akan bertarung di Kongres XV Pemuda/KNPI di Aceh, pertengahan Desember 2018 mendatang.

Articles

Pada tahun 1919, tiga lelaki paruh baya bernama Woodrow Wilson, Lloyd George, dan Georges Clemenceau “kongkow” di Paris. Saya tidak tahu pasti lokasi kongkow mereka, tapi saya lebih senang membayangkan mereka bersantai di beranda sebuah hotel mewah di tepi Sungai Seine, sambil menikmati jamuan kuliner Prancis yang terkenal lezat.

Siapakah mereka? Mereka adalah negarawan kebanggaan Amerika, Inggris, dan Prancis. Mereka adalah presiden dan perdana menteri. Kongkow di Prancis, apa yang mereka lakukan? Tak lain tak bukan adalah: menentukan nasib negara-negara jajahan.

Keji sekali kongkow mereka. Mereka duduk-duduk dan membagi tanah air orang lain seakan semuanya sudah menjadi wilayah kekuasaan mereka sendiri. Timur Tengah akan menjadi milik saya, Asia Tenggara akan menjadi milik kamu, sisanya menjadi milik dia. Persis seperti kue: daerah-daerah itu akan dikuasai dan dilahap. Manusia tidak ada harganya.

Tapi sekeji-kejinya, saya tidak bisa menutupi kekaguman pada satu hal: itulah kualitas negarawan Barat di masa lampau. Hingga seratus tahun kemudian, menurut Huntington, tak ada negarawan Barat yang bisa menandingi kekuatan mereka.

Tapi, di negara-negara terjajah pun lahir para negarawan yang tak kalah hebat, yang gagasannya menentang penindasan dan memperjuangkan kemerdekaan. Ada sedikit orang yang bermimpi (dan yakin) bisa menumbangkan sebuah negara! Ambisi yang terlalu besar dan kuat. Misalnya di India, ada Mahatma Gandhi dan murid-muridnya. Di Indonesia, ada Bung Karno dan kawan-kawannya.

Perlu dicatat: para negarawan masa lampau mendapat gelar negarawan bukan semata karena terlibat politik praktis, tapi karena tirakat intelektualisme yang panjang. Gandhi punya gagasan (Ahimsa dan Satyagraha) dan bekerja siang malam untuk menguji gagasan itu sejak di level akar rumput. Secara rutin ia menulis gagasannya, dan membangun masyarakat dari satu ashram ke ashram lain.

Bung Karno juga begitu. Sejak usia 14 tahun, yakni pada tahun 1914, jauh sebelum sumpah pemuda, Bung Karno sudah menggemparkan sidang Sarekat Islam dengan pidato berbahasa Indonesia—bahasa yang belum lazim digunakan dalam rapat saat itu. Beliau seorang bibliofil dan poliglot andal; seorang pembelajar yang sangat tekun, dan penulis yang esai-esainya begitu tajam sekaligus luwes. Korespondensi intelektualnya dengan banyak pihak tercatat hingga hari ini. Bisa dibaca, salah satunya, dalam buku berjudul “Islam Sontoloyo”.

Bahkan untuk sebuah diklat pergerakan perempuan, Bung Karno menulis sendiri buku sejarah pergerakan perempuan, (yang kelak menjadi “Sarinah”, buku pedoman gerakan perempuan demi mengisi dan merawat kemerdekaan). Jarang-jarang kita punya negarawan komplit seperti Bung Karno.

Bersama bung-bung besar lainnya, Bung Karno bekerja siang malam menguji gagasan sedari akar rumput, sampai matang ketika bernegara. Kita bisa simpulkan “wajah khas” para negarawan besar saat itu: (a) mereka intelektual, (b) punya wawasan dan jejaring global, (c) punya kesadaran kritis, (d) punya gagasan besar, (e) bergerak sedari akar rumput, dan (f) menulis.

Kekhasan itu mereka jalankan sejak muda belia. Mereka bersentuhan dengan tradisi intelektual dan gerakan dengan cukup kental. Mereka membaca buku untuk mengejar ketertinggalan intelektual Indonesia sebagai sebuah bangsa. Mereka bukan orang malas yang berkemul di dalam selimut kenyamanan (al-Muddattsir). Mereka dinamis: belajar dan bergerak. Kehadiran mereka sejak muda telah menggebrak.

Maka benarlah bila dikatakan bahwa kemerdekaan kita setengahnya direbut dengan “akal runcing”—meminjam bahasa Rocky Gerung. Muslim-muslim kita saat itu (terlepas dari perbedaan ideologi politik) terlibat dalam diplomasi dan perdebatan di meja runding internasional, melawan intimidasi negara penjajah. Setelah merdeka, mereka kembali bersilat-pikir di forum-forum Konstituante.

Apakah kita, generasi Islam saat ini, telah melihat (baca: cukup banyak membaca buku tentang) bagaimana “akal-akal runcing” itu saling beradu? Mereka yang terlibat dalam pemerdekaan dan perumusan negara itu, sudahkah kita meneladani tirakat intelektual macam apa yang mereka jalani semasa mudanya?

Kita akan memasuki hari-hari di mana apa saja bisa dieksploitasi, dan mesin-mesin politik terus bekerja memelihara nalar rakyat tetap tumpul: tujuannya, supaya gampang diyakinkan dengan argumen-argumen dangkal. Siapa pelakunya? Kaum terpelajar kita yang sudah lupa martabat kecendekiaannya.

Pertanyaan untuk kita sekarang hanya satu: lewat momentum perayaan hari sumpah pemuda ini, terutama kita kaum terpelajar Islam, hendak berbuat apa? Bila tulisan ini menggambarkan bagaimana negarawan besar masa lampau menghidupkan “Ajaran Iqro’”, bisakah kita menghidupkan hal serupa?

source : http://www.umm.ac.id