Eksistensi Pahlawan Kontemporer Pada Masa Kini

Galeri Galery Opini

 

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

-Ir. Soekarno-

 

Hari pahlawan indonesia selalu diperingati pada tanggal 10 November, peristiwa perang berdarah di kota Surabaya pada tanggal 10 November 1945 antara pihak Indonesia dengan tentara Inggris dijadikan sebagai memori untuk mengingat perjuangan para pahlawan yang gugur pada pertempuran berdarah tersebut. Pahlawan akan selalu berkaitan erat dengan perjuangan yang mereka tempuh. Dalam konteks pemahaman patriotisme, pemahaman tentang pahlawan akan selalu dibenturkan dengan slogan rela berjuang demi kepentingan bangsa dan negara. Perjuangan para pahlawan masa kini tidaklah sama dengan pahlawan masa lalu yang mengangkat senjata dan bertempur dengan para penjajah.

Bung Karno pun sudah mengingatkan para generasi penerus, dengan kalimat nya yang begitu terkenal, yakni “perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjunganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”. Perjuangan pahlawan kontemporer yang melawan bangsanya sendiri, sering kita temukan pada berita-berita hoax yang tersebar begitu massif di sosial media, kritik-kritik pada kebijakan pemerintah yang dibungkam dan dinestapakan, serta hal-hal lainnya yang menggambarkan kondisi saling serang antar masyarakat. Perjuangan berdarah yang telah dilakukan oleh para pahlawan kita di masa lalu seolah tidak berarti jika bangsa yang diperjuangkannya justru menciptakan perpecahan.

Ditengah merebaknya pandemi Covid-19 yang mulai menghampiri Indonesia pada awal tahun 2020, perjuangan pahlawan-pahlawan kontemporer dapat kita temui dalam perjuangan para tenaga kesehatan indonesia sebagai garda terdepan dalam memerangi pandemi covid—19. Data membuktikan bahwa Per 17 Agustus 2021, terdapat 1.891 tenaga kesehatan yang gugur sepanjang pandemi Covid-19 dengan rincian; 640 dokter; 637 perawat; 377 bidan; 98 dokter gigi; 34 ahli gizi; 33 ahli teknologi laboratorium, dan 13 ahli kesehatan masyarakat.

Perjuangan para tenaga kesehatan dalam melawan Covid-19 pada beberapa bulan yang lalu sangatlah sulit. Terlebih, diperparah lagi dengan massif nya berita hoax serta argumentasi para influencer media sosial yang seolah tidak menghargai perjuangan mereka. Ajakan tidak memakai masker, slogan Covid-19 adalah penyakit konspirasi, serta label haram pada vaksin covid-19 adalah contoh nyata gempuran masyarakat bagi para tenaga kesehatan yang sedang berjuang melawan pandemi ini. Kini, pandemi covid-19 di Indonesia memang sudah mulai terkendali, perjuagan para tenaga Kesehatan kian membuahkan hasil dengan semakin turunnya kurva persebaran dan tingkat kematian akibat Covid-19. Pada tanggal 17 oktober 2021, data membuktikan bahwa terdapat 0 kematian akibat covid-19 di provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Bali, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Hasil yang baik tersebut juga pasti tidak lepas dari kebijakan konsisten yang diambil para pemangku kebijakan di pemerintahan indonesia meskipun kritik-kritik tajam datang menyerang mereka.

Tenaga Kesehatan dalam pandemi covid-19 hanyalah Sebagian contoh dari eksistensi pahlawan kontemporer. Penulis berpendapat bahwa pahlawan akan selalu memiliki tempat masing-masing di tengah berbagai macam pertempuran yang mungkin terjadi. Perubahan zaman yang terjadi bukanlah sebuah halangan untuk berjuang dalam dimensi perjuangan yang mereka tempuh. Semangat para pejuang dan pahlawan di masa lalu adalah bahan bakar untuk generasi penurus dalam berjuang pada pertempuran apapun yang mungkin akan mereka hadapi dikemudian hari. Setelah Covid, pertempuran apa yang akan Indonesia hadapi? Sudahkah kita siap untuk semua itu? Jawabannya ada pada diri kita semua, siapkan mental, mungkin saya atau pembaca  yang akan menjadi pahlawan kontemporer dalam pertempuran kedepan.

Dicky Regu
Sarjana Hukum Unpad

Rayakan Idul Adha Tahun Ini, KNPI Jadikan Kurban Sebagai Perekat Kebhinekaan

Articles Galeri News

 

 

 

 

RMco.id  Rakyat Merdeka – Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-47, DPP KNPI mengadakan kegiatan Kurban Bersama Pemuda. Kegiatan ini mendapat respons yang luar biasa dari berbagai elemen lintas daerah dan agama. Hal ini penting untuk perekat pelestarian kebhinekaan agar tetap terjaga.

Ketua Umum DPP KNPI Noer Fajrieansyah mengucapkan terima kasih kepada semua pengkurban yang mempercayakan KNPI Satu Napas untuk menyalurkan daging kurban.

“Para pengkurban di antaranya Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey satu sapi, Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan Yasin Limpo satu sapi , pejabat pemerintah, pengurus DPP KNPI dan umat agama lain yang turut berpartisipasi. Total jumlah kurban ada 35 hewan, yakni 17 sapi dan 18 kambing. Semoga amal ibadah kurban diterima Allah. Dan Tuhan Yang Maha Esa membalas kebaikan para donatur’, tutur Noer.

Ketua Harlah KNPI Ke-47, Pio Bria mengungkapkan, kegiatan Kurban ini menjadi milik bersama.

“Perayaan Idul Adha yang bertepatan dengan HUT KNPI Ke-47 menjadi momentum merawat pluralisme. Bantuan hewan kurban datang dari berbagai umat beragama. Kita menyambut baik hal ini karena bagian dari menjaga kebhinekaan dalam beragama”, tutur Pio.

Ahmad Sugiyono selaku Ketua Bidang Agama sekaligus Koordinator Kurban menambahkan, daging kurban akan dibagikan ke berbagai tempat, terutama yang terdampak Covid-19.

“Selain dibagikan ke warga sekitar media center DPP KNPI, daging kurban dibagikan semua wilayah DKI Jakarta, ke panti asuhan, ke “manusia grobak” yang ada di jalan dan ke orang-orang yang membutuhkan, ungkapnya.

Sumber: https://rmco.id/baca-berita/nasional/42768/rayakan-idul-adha-tahun-ini-knpi-jadikan-kurban-sebagai-perekat-kebhinekaan

berita terkait:

https://www.tribunnews.com/images/editorial/view/1853076/knpi-berbagi-daging-kurban

https://news.detik.com/foto-news/d-5117054/berbagi-hewan-kurban-untuk-sesama-yang-membutuhkan

http://kartakita.com/?s=knpi