Dukungan Terus Mengalir, Bung Fajrie Figur yang Lengkap Memimpin KNPI

News

Dukungan untuk Noer Fajrieansyah memimpin KNPI periode 2018-2021 terus mengalir. Bung Fajrie diyakini cocok memimpin KNPI karena memiliki terobosan, kemampuan dan jaringan yang kuat mewujudkan organisasi kepemudaan yang memiliki kontribusi berperan aktif dalam pembangunan nasional.

Berita KNPI DPP Pusat fajriansyah Figur yang Lengkap Memimpin KNPI

Kepemimpinan Bung Fajrie memiliki harapan yang besar bagi pemuda Indonesia, bahwa mantan Ketua Umum PB HMI tersebut akan mampu melahirkan narasi besar kebangsaan mewujudkan persatuan dalam keberagaman yang ada di Indonesia. Apalagi visi Bung Fajri melalui satu nafas pemuda Indonesia sesuai dengan tujuan KNPI yakni terwujudnya persatuan dan kesatuan pemuda Indonesia demi tegaknya NKRI.

“Bung Fajrie figur yang lengkap karena menjanjikan dalam membangun narasi besar membangun pemuda Indonesia yang mandiri dan kreatif,” ujar Hamdan Kasim, Ketua DPD KNPI Provinsi Nusa Tenggara Barat di Jakarta, Minggu (16/12/2018).

Menurut Hamdan, terdapat tiga faktor yang membuat Bung Jafrie layak memimpin DPP KNPI, pertama, kepemimpinan Fajrie sudah teruji saat memimpin HMI yang merupakan organisasi kemahasiswaaan tertua dan terbesar di Indonesia.

Kedua, Figur Fajrie merupakan sosok muda yang energik yang bisa mewakili kaum millennial saat ini. Apalagi Indonesia akan memasuki bonus demografi dimana jumlah anak-anak muda produktif akan banyak jumlahnya dibandingkan penduduk usia tua.

Kehadiran Bung Fajrie memimpin KNPI akan mampu menjawab kebutuhan kaum millenial tersebut memenangkan persaingan di era globalisasi.

Ketiga, Bung Fajrie diusung oleh organisasi kepemudaan yang beragam dalam Kongres XV Pemuda/KNPI akan dilaksanakan pada 18-21 Desember 2018 di Bogor Provinsi Jawa Barat ini.

Terdapat dukungan dari organisasi kepemudaan berlatar belakang kekaryaan, nasionalis, keagamaan. Keberagamaan yang dimiliki bangsa Indonesai merupakan sebuah kekuatan besar. Sejak awal pemuda mesti memahami dan menghayati tentang keberagaman tersebut.

“Sosok Bung Fajrie bisa dikatakan miniatur Indonesia, karena keberagaman sangat kental dalam sosok beliau,” pungkas Hamdan yang pernah menjadi salah seorang ketua bidang di era kepemimpinan Noer Fajrieansyah.

Jelang Kongres KNPI Kolaborasi dan Inovasi, Cara Ideal Memberdayakan Potensi Dahsyat KNPI

News

Heterogenitas Indonesia menjadi gambaran yang harus diverminkan setiap wadah perkumpulan yang mengatasnamakan bangsa ini. KNPI sebagai wadah pemuda juga tentu mesti menjadi perwujudan dari keberagaman tersebut.

Pernyataan tersebut disampaikan Zein While, Ketua Forum Intelektual Muda Nusantara. Menurutnya, KNPI harus mampu memposisikan keragaman tersebut menjadi sebuah potensi untuk diekploitasi .

“Mempotensikan diversity sebagai sebuah kekuatan besar, hanya bisa tejadi apabila ada ruang yang adil untuk semua kelompok, untuk ikut memberikan sumbangsih nyata bagi kelempok heterogen tersebut, atau singkatnya dengan kolaborasi,” ujar dia.lewat siaran persnya di Jakarta, Selasa (18/12).

Ketua Forum Intelektual Muda Nusantara, Zhein While (Ist/JawaPos.com)

 

Kehendak untuk turut menjaga keberagaman dalam ikatan kesatuan perlu ditenun dengan kolabirasi karya, kolaborasi gagasan, kolaborasi ide dan perspektif. “Dengan meramu semua potensi perbedaan menjadi satu hidangan karya bersama maka akan terwujud suatu persatuan hakiki,” katanya.

Sebagai contoh karya master piece para founding father bernama Pancasila, di dahului dengan kolaborasi gagasan mereka yang berbeda. KNPI sebagai kendaraan pemuda Indonesia harus mengadopsi secara kontektual bentuk kolaborasi itu sebagai haluan ke depan, karena dengan kolaborasi pemuda Indonesia akan selalu menghasilkan kreasi.

Realitas kebangsaan hari ini yang menjurus kepada ancaman terhadap tenun kebangsaan, juga harus menjadi concern dari KNPI.

“Jurang perbedaan yang semakin menganga harus secepatnya dijembatani oleh pemuda Indonesia sebagai aset masa depan bangsa,” ungkapnya.

Ancaman ini harus mampu dikonversi menjadi tantangan KNPI sebagai alat pemuda untuk terus menyuarakan persatuan. Salah satu cara yang efektif adalah dengan terus mendorong pemuda berinovasi dalam kreasi.

“Hal ini juga akan menjawab tantangan kemajuan global yamg semakin cepat untuk keperluan internal KNPI, demi mempertahankan eksistensinya sebgai wadah bersatunya pemuda indonesia,” tandasnya.

source : jawapos.com

Generasi Millenial Harus Berkreasi Bangun Pemuda Indonesia

News Sharing Info

Generasi milenilai dinilai harus berkolaborasi dan berkreasi untuk membangun dunia kepemudaan di tanah air.

Pendapat ini diungkapkan oleh Calon Ketua Umum DPP Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Noer Fajrieansyah.

Menurutnya, hal ini harus dilakukan agar para pemuda Indonesia tak ketinggalan mengingat kini telah memasuki era revolusi industri 4.0.

Mantan Ketua Umum PB HMI ini pun menegaskan bahwa pemuda saat ini masih ada dan peduli dalam membangun bangsa dan negara.

“KNPI bisa mengikuti era yang saat ini digital, era industri 4.0 dan pergerakan millenial yang sangat kuat,” ujar Fajri dalam Kongkow Bareng Organisasi Kepemudaan di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat (7/12).

Selain itu, ia juga mengajak para pemuda untuk satu nafas, terlebih dalam tahun politik seperti sekarang ini. Dengan nafas yang satu ini, kata Fajri, para pemuda bisa menjadi kekuatan pemersatu dan mengikat komitmen kebangsaan pemuda dalam menghadapi situasi sosial-politik yang semakin panas.

“Pemuda Indonesia saat ini meski dalam Pilpres, semua ada kelompok A dan kelompok B. Hari ini kami mencoba menyatukan semua kelompok, tidak serta merta kumpul membahas KNPI tapi juga membahas permasalahan bangsa,” urainya.

Hadir dalam acara, Ketua Umum KNPI Rifai Darus menilai, gagasan yang diaspirasikan Fajri merupakan sesuatu yang unik. Menurutnya, KNPI saat ini tidak bisa dipisahkan dari era milenials.

“Bung Fajrieansyah paham betul tentang dunia kepemudaan milineal yang mengambil titik starnya dari dunia ke-milineal-an,” ucap Darus.

Ia berharap, Fajri mampu membuat pemuda Indonesia, khususnya KNPI menjadi dunia yang disenangi dan enjoy untuk bisa ber-elaborasi gagasan membangun Indonesia di masa depan.

Sementara Ketua Umum PB HMI Saddam Al Jihad mengatakan penyatuan nafas ini penting diwujudkan dengan luwes dan lebih milenials. Ini agar KNPI di masa depan menjadi milik pemuda KNPI yang milenilals bukan lagi KNPI yang terlalu politis.

“Keluwesan pemuda ini yang diharapkan KNPI menjadi wadah dalam masa bonus demografi tahun 2020-2030,” pungkasnya.

Rapat Kerja KNPI # Satu Nafas

News

 

Dewan Pengurus Pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPP KNPI) menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) pertama kepengurusan periode 2018-2021 di Jakarta, Sabtu (29/6/2019), sebagai ajang konsolidasi organisasi kepemudaan di seluruh Indonesia.

Acara ini merupakan ajang konsolidasi organisasi kepemudaan di seluruh Indonesia dari seluruh propinsi.

“Pertama-tama kami DPP KNPI mengucapkan selamat kepada pasangan capres Jokowi-Ma’ruf yang telah dimenangkan oleh putusan MK kemarin. Sebagai anak muda maka kami tidak merayakannya dengan selebrasi akan tetapi dengan mengadakan konsolidasi pemuda seluruh Indonesia untuk memberi masukan berupa program dan kegiatan yang dapat berkolaborasi dengan visi nawacita pasangan Jokowi-Ma’ruf,” ujar Ketua Umum DPP KNPI Noer Fajrieansyah, ujarnya kepada INDOPOS melalui pesan tertulis, Minggu (30/6/2019).

Rakernas ini mengangkat tema ‘Indonesia Satu Tak Terbagi’. Di sini digelar dua sesi diskusi publik, yakni ‘Pemuda dan Industri’ serta ‘Pemuda dan Strategi Penguatan Ketahanan Sistem Informasi’. Diskusi ini menghadirkan narasumber dari BKKBN, Kemenperin, Kemenkop, Humas Polri, serta BAKTI Kominfo.

Dewan Pengurus Pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPP KNPI) berfoto bersama di sela Rapat Kerja Nasional (Rakernas) pertama kepengurusan periode 2018-2021 di Jakarta, Sabtu (29/6/2019).

Sekretaris Jenderal DPP KNPI, Addin Jauharuddin mengatakan, Rakernas ini merupakan momentum untuk menyatukan visi dan misi pemuda Indonesia untuk dapat berkarya dan berkolaborasi dengan pemerintahan terpilih yang akan memimpin pada periode 2019-2024.

“Di KNPI ini semua anak muda kumpul, mulai dari lintas agama, lintas partai dan profesi semua ada. Disini semua sepakat proses demokrasi sudah selesai saatnya kita berkumpul, berkolaborasi dan berkreasi untuk Indonesia satu yang tak terbagi,” ujarnya kepada INDOPOS melalui pesan tertulis, Minggu (30/6/2019).

Saat ini, soal pilpres telah selesai. Dengan demikian diharapkan ke depan adalah seluruh komponen anak bangsa segara bersatu padu. Kemudian, segera bangkit dan melupakan momentum politik, jika ingin berpolitik maka ada waktu 5 tahun ke depan.

“Kita berharap bahwa hal-hal buruk yang terjadi pada pemilu kemarin, soal hoaks, fitnah dan pecah belah hingga soal polarisasi harus dilupakan, selebihnya mari bergandengan tangan seluruh pemuda dan berkolaborasi dengan membuat kreasi-kreasi untuk Indonesia ke depan,” katanya.

Soal sumber daya manusia (SDM) pemuda ke depan, bagaimana pun KNPI pada hari ini merupakan satu-satunya wadah untuk tempat berhimpun organisasi kepemudaan atau pun kemahasiswaan, sehingga diharapkan KNPI dan seluruh jajaran pengurus paling bawah bisa menjadi jembatan dari kepentingan besar antara negara dengan masyarakat, maupun swasta dengan pemerintah. KNPI bisa menjadi wadah pengembangan percepatan SDM dari segala lini. (rmn)

News

 

Berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 24 Tahun 2016 tentang Hari Lahir Pancasila, setiap tanggal 1 Juni ditetapkan sebagai peringatan hari lahir Pancasila. Setiap daerah pun melakukan upacara peringatan hari lahir Pancasila.

Dalam Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2018, Presiden RI Joko Widodo bertindak sebagai inspektur upacara dalam Peringatan Hari Lahir Pancasila yang diselenggarakan di halaman Gedung Pancasila Kementerian Luar Negeri.

News

 ‘KNPI Satu Nafas’ merupakan istilah yang menunjukan bahwa pemuda seluruh Indonesia satu kesatuan tekad, visi dan misi, detak nadi perjuangan, cita-cita membangun bangsa dan negara Indonesia.

Menurut mantan Ketua Umum PB HMI itu, melalui filosofi ‘Satu Nafas’ bisa menyiapkan kepemimpinan pemuda yang lebih baik; Menciptakan perubahan bangsa; Menciptakan lapangan kerja; dan menjadi solusi terhadap segala persoalan kebangsaan dan kemasyarakatan.

“Dengan ‘KNPI Satu Nafas’ sekaligus menjadi pengikat jiwa perjuangan dan komitmen pemuda Indonesia untuk berperan aktif dalam setiap dinamika sosial politik bangsa, menjaga serta memastikan bangsa ini akan berlabuh pada kejayaan dan kesejahteraan,” paparnya.

Selain itu, dengan ‘ke-satu-an’ dari pemuda Indonesia akan memberi rasa optimisme kepada rakyat bahwa Indonesia bakal semakin maju dan menjadi bangsa yang berdaya saing.

Untuk itu, lanjut Fajri, ‘KNPI Satu Nafas’ tidak hanya slogan tetapi sekaligus filosofi dan nafas perjuangan pemuda Indonesia. Sekaligus mendorong pemuda untuk berperan aktif dalam Industri 4.0, serta memaksimalkan potensi aksesibilitas economy digital, seperti finence, fintech, untuk memajukan ekonomi Indonesia di setiap lini.

“Filosofi ‘Satu Nafas’ juga memberi jalan kepada KNPI dan pemuda Indonesia untuk mulai berperan aktif dalam Revisi UU Kepemudaan No.40 Tahun 2009, sehingga dapat memberdayakan kepemudaan lebih holistik dan bisa menjamin dinamisasi dalam dunia kepemudaan,” tandas pemuda yang akan bertarung di Kongres XV Pemuda/KNPI di Aceh, pertengahan Desember 2018 mendatang.

Articles

Pada tahun 1919, tiga lelaki paruh baya bernama Woodrow Wilson, Lloyd George, dan Georges Clemenceau “kongkow” di Paris. Saya tidak tahu pasti lokasi kongkow mereka, tapi saya lebih senang membayangkan mereka bersantai di beranda sebuah hotel mewah di tepi Sungai Seine, sambil menikmati jamuan kuliner Prancis yang terkenal lezat.

Siapakah mereka? Mereka adalah negarawan kebanggaan Amerika, Inggris, dan Prancis. Mereka adalah presiden dan perdana menteri. Kongkow di Prancis, apa yang mereka lakukan? Tak lain tak bukan adalah: menentukan nasib negara-negara jajahan.

Keji sekali kongkow mereka. Mereka duduk-duduk dan membagi tanah air orang lain seakan semuanya sudah menjadi wilayah kekuasaan mereka sendiri. Timur Tengah akan menjadi milik saya, Asia Tenggara akan menjadi milik kamu, sisanya menjadi milik dia. Persis seperti kue: daerah-daerah itu akan dikuasai dan dilahap. Manusia tidak ada harganya.

Tapi sekeji-kejinya, saya tidak bisa menutupi kekaguman pada satu hal: itulah kualitas negarawan Barat di masa lampau. Hingga seratus tahun kemudian, menurut Huntington, tak ada negarawan Barat yang bisa menandingi kekuatan mereka.

Tapi, di negara-negara terjajah pun lahir para negarawan yang tak kalah hebat, yang gagasannya menentang penindasan dan memperjuangkan kemerdekaan. Ada sedikit orang yang bermimpi (dan yakin) bisa menumbangkan sebuah negara! Ambisi yang terlalu besar dan kuat. Misalnya di India, ada Mahatma Gandhi dan murid-muridnya. Di Indonesia, ada Bung Karno dan kawan-kawannya.

Perlu dicatat: para negarawan masa lampau mendapat gelar negarawan bukan semata karena terlibat politik praktis, tapi karena tirakat intelektualisme yang panjang. Gandhi punya gagasan (Ahimsa dan Satyagraha) dan bekerja siang malam untuk menguji gagasan itu sejak di level akar rumput. Secara rutin ia menulis gagasannya, dan membangun masyarakat dari satu ashram ke ashram lain.

Bung Karno juga begitu. Sejak usia 14 tahun, yakni pada tahun 1914, jauh sebelum sumpah pemuda, Bung Karno sudah menggemparkan sidang Sarekat Islam dengan pidato berbahasa Indonesia—bahasa yang belum lazim digunakan dalam rapat saat itu. Beliau seorang bibliofil dan poliglot andal; seorang pembelajar yang sangat tekun, dan penulis yang esai-esainya begitu tajam sekaligus luwes. Korespondensi intelektualnya dengan banyak pihak tercatat hingga hari ini. Bisa dibaca, salah satunya, dalam buku berjudul “Islam Sontoloyo”.

Bahkan untuk sebuah diklat pergerakan perempuan, Bung Karno menulis sendiri buku sejarah pergerakan perempuan, (yang kelak menjadi “Sarinah”, buku pedoman gerakan perempuan demi mengisi dan merawat kemerdekaan). Jarang-jarang kita punya negarawan komplit seperti Bung Karno.

Bersama bung-bung besar lainnya, Bung Karno bekerja siang malam menguji gagasan sedari akar rumput, sampai matang ketika bernegara. Kita bisa simpulkan “wajah khas” para negarawan besar saat itu: (a) mereka intelektual, (b) punya wawasan dan jejaring global, (c) punya kesadaran kritis, (d) punya gagasan besar, (e) bergerak sedari akar rumput, dan (f) menulis.

Kekhasan itu mereka jalankan sejak muda belia. Mereka bersentuhan dengan tradisi intelektual dan gerakan dengan cukup kental. Mereka membaca buku untuk mengejar ketertinggalan intelektual Indonesia sebagai sebuah bangsa. Mereka bukan orang malas yang berkemul di dalam selimut kenyamanan (al-Muddattsir). Mereka dinamis: belajar dan bergerak. Kehadiran mereka sejak muda telah menggebrak.

Maka benarlah bila dikatakan bahwa kemerdekaan kita setengahnya direbut dengan “akal runcing”—meminjam bahasa Rocky Gerung. Muslim-muslim kita saat itu (terlepas dari perbedaan ideologi politik) terlibat dalam diplomasi dan perdebatan di meja runding internasional, melawan intimidasi negara penjajah. Setelah merdeka, mereka kembali bersilat-pikir di forum-forum Konstituante.

Apakah kita, generasi Islam saat ini, telah melihat (baca: cukup banyak membaca buku tentang) bagaimana “akal-akal runcing” itu saling beradu? Mereka yang terlibat dalam pemerdekaan dan perumusan negara itu, sudahkah kita meneladani tirakat intelektual macam apa yang mereka jalani semasa mudanya?

Kita akan memasuki hari-hari di mana apa saja bisa dieksploitasi, dan mesin-mesin politik terus bekerja memelihara nalar rakyat tetap tumpul: tujuannya, supaya gampang diyakinkan dengan argumen-argumen dangkal. Siapa pelakunya? Kaum terpelajar kita yang sudah lupa martabat kecendekiaannya.

Pertanyaan untuk kita sekarang hanya satu: lewat momentum perayaan hari sumpah pemuda ini, terutama kita kaum terpelajar Islam, hendak berbuat apa? Bila tulisan ini menggambarkan bagaimana negarawan besar masa lampau menghidupkan “Ajaran Iqro’”, bisakah kita menghidupkan hal serupa?

source : http://www.umm.ac.id